UJI SILANG DALAM TRANSFUSI DARAH

Prosedur transfusi darah yang aman merupakan standar yang harus dipenuhi demi menunjang keselamatan pasien. Salah satu prosedur penting sebelum memasukkan darah donor ke dalam tubuh resipien adalah uji silang serasi. Prosedur ini bertujuan untuk meminimalkan terjadinya reaksi pasca transfusi yang diperantarai kekebalan karena ketidakcocokan darah. Reaksi hemolisis pasca transfusi terjadi ketika sistem kekebalan resipien mendeteksi antigen sel darah merah donor sehingga terjadi kerusakan sel darah merah diikuti gejala klinis berupa demam, hipotensi, gagal nafas dan gagal ginjal akut.

INFEKSI MENULAR LEWAT TRANSFUSI

Darah sebagai material transfusi merupakan elemen yang dapat menyelamatkan nyawa pasien yang membutuhkan jika dikelola dan diberikan dengan benar. Namun, kasus penularan penyakit infeksi melalui transfusi masih dapat dijumpai. Berbagai macam agen infeksi dapat ditularkan melalui darah baik berupa virus, bakteri, parasit maupun prion diantaranya:

MENUJU PRAKTEK TRANSFUSI Yang AMAN

indakan transfusi merupakan bidang yang terus berkembang dan menarik untuk diteliti. Namun akses terhadap terapi yang dapat menyelamatkan jiwa ini masih terbatas. Pada beberapa kasus, ketersedian darah tidak mencukupi karena terbatasnya sistem pengumpulan darah yang efektif. Ketersediaan darah yang cukup dapat tercapai jika setidaknya 1–3% dari populasi bersedia menjadi donor.

JEJARING HEMOVIGILANCE

Transfusi darah merupakan terapi penunjang yang diberikan kepada pasien yang membutuhkan untuk mengganti atau meningkatkan salah satu atau beberapa komponen darah. Tindakan ini merupakan rangkaian proses yang panjang sejak dilakukan penjaringan donor, pengambilan darah donor, pengolahan komponen, penyimpanan darah, pemeriksaan pretransfusi, pemberian transfusi kepada pasien, sampai dengan pemantauan transfusi.

PENUNDAAN BAGI PENDONOR DARAH

Donor darah merupakan tindakan yang dianggap mulia pada sebagian besar masyarakat. Melalui prosedur ini, pendonor dengan sukarela menyumbangkan sebagian darahnya untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Penggiat program donor darah berusaha merekrut sebanyak mungkin donor dengan mengumandangkan prinsip-prinsip humanism. Banyak orang tergerak jiwanya untuk ikut mendonorkan darahnya, namun tidak semuanya dapat diterima sebagai pendonor darah karena belum memenuhi kriteria sebagai pendonor darah. Kriteria ini dibuat untuk mengurangi risiko penularan penyakit lewat transfusi, menurunkan kejaidan efek samping pasca transfusi dan mencegah perburukan kondisi kesehatan pendonor.

Seputar Apheresis

Apheresis merupakan metode pengambilan satu atau lebih komponen darah dengan mengolah whole blood melalui sebuah mesin diikuti dengan pengembalian komponen darah residual kepada donor atau pasien selama atau setelah prosesnya untuk kestabilan status hemodinamik. Apheresis mulai dikembangkan sejak akhir abad ke 18 oleh de Laval dan terus disempurnakan hingga sekarang ini.

REAKSI PASCA TRANSFUSI

Transfusi darah merupakan prosedur klinis yang relatif aman, walaupun terdapat risiko terjadinya reaksi pasca transfusi darah. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai macam metode telah diterapkan untuk meminimalkan kejadian reaksi pasca transfusi darah. Angka kejadian reaksi telah menurun drastis dibandingkan pada dekade awal ditemukannya prosedur ini. Namun demikian, kita tetap patut waspada terhadap kemungkinan terjadinya reaksi sehingga mampu mengambil tindakan pertolongan segera.

Copyright © 2019haemovigilanceindo. All Right Reserved.