INFEKSI MENULAR LEWAT TRANSFUSI

Darah sebagai material transfusi merupakan elemen yang dapat menyelamatkan nyawa pasien yang membutuhkan jika dikelola dan diberikan dengan benar. Namun, kasus penularan penyakit infeksi melalui transfusi masih dapat dijumpai. Berbagai macam agen infeksi dapat ditularkan melalui darah baik berupa virus, bakteri, parasit maupun prion diantaranya:

  1. Virus : HIV, Hepatitis virus B C E, West Nile virus, CMV, HTLV
  2. Bakteri: Yersinia, Proteus, Pseudomonas, Escherichia, Klebsiella, Staphylococcus dan Bacillus
  3. Parasit: Plasmodium sp, Trypanosoma sp
  4. Prion pada Creutzfeldt-Jacob disease

Agen infeksi yang berpotensi menimbulkan penyakit melalui perantaraan transfusi darah biasanya memiliki keasamaan karakter yaitu memiliki fase asimptomatik, mampu bertahan hidup dalam darah dan menular melalui jalur intravena terutama pada individu yang rentan.

Komite Serious Hazard of Transfusion (SHOT) mendefinisikan infeksi yang diperantarai transfusi sebagai laporan tentang bukti infeksi pasca transfusi pada resipien tanpa bukti infeksi sebelum transfusi atau sumber infeksi alternatif dan setidaknya satu koomponen darah yang diterima resipien terinfeksi merupakan hasil sumbangan dari donor yang memiliki infeksi yang serupa. Infeksi yang diperantarai transfusi dapat memunculkan gejala yang bervariasi, namun demam, menggigil, peningkatan detak jantung dan penurunan tekanan darah >30 mmHg merupakan gejala yang sering dilaporkan.

Strategi untuk mengurangi kejadian infeksi yang diperantarai transfusi harus diterapkan secara berlapis-lapis. Langkah awal yang dapat dilakukan dengan menetapkan seleksi pendonor  melalui kuesioner diikuti dengan uji saring. Kuesioner diarahkan untuk menggali riwayat penyakit, donor darah sebelumnya, penggunaan obat saat ini serta riwayat perilaku berisiko. Donor terpilih harus dilakukan penanganan yang baik selama proses pengambilan darah sebagai bentuk kontrol kualitas.

Penerapan seleksi donor dan uji saring tidak dapat menghilangkan kemungkinan bahwa darah donor bebas dari agen infeksi yang memiliki periode jendela dalam perjalanan penyakitnya. Metode pengolahan, penyimpanan darah yang baik dan melakukan prosedur inaktivasi pathogen merupakan cara untuk meningkatkan keamanan yang perlu dikerjakan berikutnya. Beberapa metode inaktivasi pathogen yang dapat diterapkan seperti penggunaan pelarut detergen, metilen biru, penyinaran UV, vitamin B2 dan leukodeplesi. Setiap metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan serta akan menurunkan kemanfaatan dari produk darah.

Strategi yang perlu diterapkan selanjutnya adalah peninjauan ulang (lookback). Strategi ini diterapkan untuk mengidentifikasi dan mengingatkan resipien yang mungkin telah menerima darah dari donor terpilih yang mengalami perubahan hasil skrining dari negatif ke positif untuk penyakit infeksi tertentu selama berjalannya waktu. Strategi ini mengupayakan pengurangan transmisi infeksi lewat darah dan memungkinkan resipien terinfeksi mencari bantuan medis segera.

Tabel 1. Skrining yang diperlukan bagi darah donor

Agen infeksi

Tes minimal

Comments

HIV 1+2

anti-HIV 1+2 or HIV 1+2 Ag/Ab (W), HIV RNA

Skrining RNA maksimal pada populasi donasi 48 buah.

HCV

anti-HCV (W)

HCV RNA (W)

Skrining RNA maksimal pada populasi donasi 48 buah.

HBV

HBsAg (W)

HBV DNA

anti-HBc [+ anti-HBs] (T)

Skrining DNA maksimal pada populasi donasi 48 buah. Donasi yang anti-HBc reactive dan anti-HBs >100 mIU/mL harus dibuang

Syphilis

anti-treponemal Ab (W)

 

HTLV I/II

anti-HTLV I/II (W)

Skrining  maksimal pada populasi donasi 48 buah.

HCMV

anti-HCMV (T)

Idealnya IgG dan IgM, tetapi IgG saja cukup.

Plasmodiumsp.

anti-P. falciparum/vivax (T)

 

T. cruzi

anti-T. cruzi (T)

 

West Nile Virus (WNV)

WNV RNA (T)

Skrining RNA maksimal pada populasi donasi 16 buah.

W (Wajib), T (Tambahan, berdasarkan adanya faktor risiko)