PENUNDAAN BAGI PENDONOR DARAH

Donor darah merupakan tindakan yang dianggap mulia pada sebagian besar masyarakat. Melalui prosedur ini, pendonor dengan sukarela menyumbangkan sebagian darahnya untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Penggiat program donor darah berusaha merekrut sebanyak mungkin donor dengan mengumandangkan prinsip-prinsip humanism. Banyak orang tergerak jiwanya untuk ikut mendonorkan darahnya, namun tidak semuanya dapat diterima sebagai pendonor darah karena belum memenuhi kriteria sebagai pendonor darah. Kriteria ini dibuat untuk mengurangi risiko penularan penyakit lewat transfusi, menurunkan kejaidan efek samping pasca transfusi dan mencegah perburukan kondisi kesehatan pendonor.

Serangkain kriteria kelayakan bagi pendonor telah diformulasikan oleh pakar kesehatan di seluruh dunia. Kriteria kelayakan dapat bersifat umum dan spesifik, biasanya akan digali oleh pegawai unit transfusi melalui wawancara dan pemeriksaan fisik. Bagi pendonor yang memenuhi kriteria, diharapkan untuk tetap menjaga kesehatan, mengkonsumsi cukup air dan membawa identitas saat donor darah. Pendonor yang tidak memenuhi kriteria kelayakan harus mengalami penundaan donor darah. Penundaan donor darah dapat bersifat sementara maupun permanen tergantung dari kriteria kelayakan manakah yang tidak terpenuhi. Berikut kriteria umum dan spesifik donor darah beserta keputusan penundaannya:

Kriteria umum:

Memiliki kondisi fisik yang sehat, berusia diatas 17 tahun dan berat badan minimal 50 kg.

Kriteria spesifik:

  • Penggunaan obat dan vaksin

Kelayakan pendonor darah dapat dipengaruhi riwayat vaksinasi, tergantung dari jenis vaksin yang diterimanya. Vaksin influenza, HPV, tetanus dan meningitis tidak berpengaruh terhadap kelayakan pendonor. Penerima vaksin MMR, Rubella,  herpes zoster dan cacar air perlu ditunda 4 minggu untuk donor. Sedangkan vaksin campak, polio oral dan demam kuning harus ditunda 2 minggu. Penerima vaksin hepatitis B preventif harus ditunda 21 hari sebelum dapat mendonorkan darah.

Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat menunda seseorang untuk dapat menyumbangkan darahnya. Pengguna antibiotik oral untuk pengobatan infeksi akut dapat diterima sebagai donor segera setelah infeksinya teratasi, namun untuk antibiotik injeksi harus ditunda 10 hari sejak penyuntikan terakhir.

Penggunaan warfarin, heparin, dabigatran, rivaoxaban dan enoxaparin harus menunda 7 hari semenjak dosis terakhir.

Isotretinoin, finasteride harus ditunda 1 bulan sejak dosis terakhir

Injeksi material radioaktif memerlukan penundaan 8 minggu untuk donor darah

Soriatane (acitretin) harus menunda 3 tahun sejak dosis terakhir

Penggunaan aspirin dan piroxicam tidak menunda donor whole blood, namun jika akan apheresis platelet harus ditunda 48 jam. Pengguna ticlodipine, prasugrel dan clopidogrel harus menunda 14 hari jika akan apheresis platelet.

Penggunaan hormone pituitary dan etretinate membuat pendonor tidak layak untuk selamanya.

  • Kondisi medis yang mempengaruhi kelayakan

Penderita influenza perlu menunda donasi jika dalam kondisi demam atauingus produktif. Alergi dan asma tidak menunda donor darah jika dalam kondisi terkontrol dan tidak mengganggu pernafasan. Pendonor dengan tekanan darah maksimal 180/100 dan minimal 80/50 mmHg masih diperbolehkan menyumbangkan darahnya. Penderita diabetes yang terkontrol insulin maupun terapi oral layak untuk menyumbangkan darah. Level hemoglobin minimal bagi donor adalah 12.5 g/dl.

Kelayakan donor bagi penderita kanker tergantung dari jenis kanker, rekurensi, dan riwayat pengobatannya. Penderita kanker rekuren (kecuali karsinoma sel basal dan skuamosa), leukemia, limfoma dan kanker darah lainnya tidak layak untuk donasi. Penderita kanker lainnya dianggap layak jika kanker telah berhasil ditangani dan berjarak 12 bulan sejak penanganan terakhir.

Penderita penyakit jantung atau katup jantung diperkenankan donor darah jika telah dievaluasi, tanpa gejala dalam 6 bulan terakhir dan tidak ada keterbatasan dalam aktivitas harian. Jika gejala muncul, maka perlu penundaan minimal 6 bulan. Pengguna pacu jantung diperkenankan donasi jika denyut nadi berkisar 50-100 x/menit dengan denyut ireguler minimal. Pasien dengan penyakit kuning selain disebabkan infeksi virus diperkenankan untuk donor darah.

Penderita dengan riwayat malaria atau pernah tinggal >5 tahun di negara endemis malaria harus menunda donasi selama 3 tahun. Jika pernah bepergian ke area endemis malaria harus menunda selam 1 tahun. Penderita TB aktif tidak layak mendonorkan darahnya, dan harus menunda hingga dinyatakan sembuh.

Penundaan permanen untuk pendonor darah diberlakukan jika ditemukan kondisi seperti HIV/AIDS, hepatitis karena virus dengan atau tanpa gejala, penyakit Chagas, babesiosis, infectious mononucleosis, hemochromatosis herediter, gangguan perdarahan dan penyakit anemia sel sabit. Petugas transfusi wajib menggali faktor resiko, tanda dan gejala HIV/AIDS bagi pendonor yang berisiko tinggi.

  • Perawatan medis yang mempengaruhi kelayakan

Pendonor dengan riwayat menerima transfusi darah harus menunda 12 bulan sebelum melakukan donor darah. Prosedur perawatan gigi tidak mempengaruhi kelayakan pendonor jika tidak ada infeksi namun riwayat operasi mulut perlu menunda 3 hari. Riwayat operasi harus dievaluasi individual untuk menentukan kelayakan donor darah. Riwayat transplantasi organ juga memerlukan penundaan 1 tahun sebelum layak donasi. Terapi akupuntur dan penggantiaan hormone tidak mempengaruhi kelayakan donor.

  • Gaya hidup dan tahapan tertentu kehidupan

Perilaku seksual sesama pria, penggguna narkoba suntik tidak diperkenankan mendonorkan darahnya. Kelayakan pendonor bertatto dipertimbangkan jika instrumen yang digunakan sekali pakai, steril, dan perlu ditunda selama 1 tahun sebelum dinyatakan layak donor. Pendonor dengan riwayat pemenjaraan >72 jam harus ditunda 1 tahun sebelum dinyatakan layak donor.

Pendonor yang sedang hamil tidak layak dan harus menunda hingga 6 bulan melahirkan.

  • Penyakit menular seksual

Penderita sifilis dan gonore harus menunda 12 bulan sejak menyelesaikan terapi. Infeksi Chlamydia dan kutil kelamin tidak mempengaruhi kelayakan donasi.

  • Riwayat perjalanan

Berkaitan dengan risiko malaria, leishmaniasis dan Creutzfeld Jacob Disease (vCJD).

Penundaan bagi orang yang sudah bertekad untuk mendonorkan darahnya dapat menimbulkan kekecewaan dan hilangnya motivasi. Sehingga, petugas unit donor darah perlu memberikan informasi tambahan bagi calon donor tersebut. Bagi pendonor yang mengalami penundaan sementara karena kekurangan hemoglobin atau sedang mengalami penyakit infeksi akut dapat diberikan saran perbaikan gizi. Bagi pendonor yang tertunda dalam untuk periode tertentu, dapat diberikan kartu pengingat dan motivasi untuk menghargai niat baik mereka. Bagi pendonor yang tertolak untuk selamanya dapat diberikan arahan untuk menunjukkan kepedulian dalam bentuk lain semisal bantuan tenaga atau mengajak teman untuk menjadi pendonor. Informasi penting yang wajib diberikan adalah penjelasan bahwa penundaan dilakukan demi keselamatan jiwa penerima dan pendonor.